Jln. Kartini No. 26 Sidorejo
Jln. Kartini No. 26 Sidorejo
Jln. Kartini No. 26 Sidorejo
Jln. Kartini No. 26 Sidorejo
Jln. Kartini No. 26 Sidorejo
SALAM PRAMUKA
Salam
(Penghormatan) wajib dilakukan bagi semua anggota Pramuka.
Salam adalah
suatu perwujudan dari penghargaan seseorang kepada orang lain atau dasar tata
susila yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Fungsi Salam Pramuka.
Salam untuk
melahirkan disiplin, tata tertib yang mewujudkan suatu ikatan jiwa yang kuat ke
dalam maupun ke luar, yang hanya dapat dicapai dengan adanya saling
menyampaikan penghormatan yang dilakukan secara tertib, sempurna dan penuh
keikhlasan.
Dalam
menyampaikan salam, baik yang memakai topi atau tidak, adalah sama yaitu dengan
cara melakukan gerakan penghormatan.
Salam
Pramuka digolongkan menjadi 3 macam :
Yaitu salam
yang diberikan kepada sesama anggota Pramuka.
2.Salam Hormat.
Yaitu salam
yang diberikan kepada seseorang atau sesuatu yang kedudukannya lebih tinggi.
3.Salam Janji.
Yaitu salam
yang dilakukan ketika ada anggota Pramuka yang sedang dilantik (Dalam
pengucapan janji yaitu Tri Satya atau Dwi Satya)
Untuk Salam
hormat diberikan kepada :
THE
SCOUT’S OATH IN BADEN-POWELL’S SCOUTING FOR BOYS, 1908
“On my honour I promise that—
1. I will
do my duty to God and the King.
2.. I will
do my best to help others, whatever it costs me.
3.. I know
the Scout Law, and will obey it.”
THE
SCOUT LAW IN BADEN-POWELL’S SCOUTING FOR BOYS, 1908
1. A
Scout’s honour is to be trusted.
2. A Scout
is loyal to the King, and to his officers, and to his country, and to his
employers.
3. A
Scout’s duty is to be useful and to help others.
4. A Scout
is a friend to all, and a brother to every other Scout, no matter to what
social class the other belongs.
5. A Scout
is courteous.
6. A Scout
is a friend to animals.
7. A Scout
obeys orders of his patrol leader or Scoutmaster without question.
8. A Scout
smiles and whistles under all circumstances.
9. A Scout
is thrifty.
In
describing the process of formulating these guidelines, Baden-Powell explained:
“Now I know that a real red-blooded boy is all for
action, ready for adventure. He just hates to be nagged and told ‘You must not
do this—you must not do that.’ He wants to know what he can do. So I thought
why should we not have our own Law for Scouts, and I jotted down ten things
that a fellows needs to do as his regular habit if he is going to be a real
man.”
Sejarah
Kepramukaan Indonesia
Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Untuk itu perlu diketahui sejarah perkembangan Kepramukaan di Indonesia.
Sejarah Singkat
Gerakan Pramuka
Gagasan Boden Powell yang
cemerlang dan menarik itu akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk
Netherland atau Belanda dengan nama Padvinder. Oleh orang Belanda gagasan itu
dibawa ke Indonesia dan didirikan organisasi oleh orang Belanda di Indonesia
dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan
Pandu-Pandu Hindia Belanda).
Oleh pemimpin-pemimpin gerakan
nasional dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia
Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Sehingga muncul
bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders
Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche
Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).
Dengan adanya larangan
pemerintah Hindia Belanda menggunakan istilah Padvindery maka K.H. Agus Salim
menggunakan nama Pandu atau Kepanduan.
Dengan meningkatnya kesadaran nasional
setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO,
PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung menjadi KBI
(Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan
Antar Pandu Indonesia) yang berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan
Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938.
Pada waktu pendudukan Jepang
Kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk
Keibondan, Seinendan dan PETA.
Setelah tokoh proklamasi
kemerdekaan dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di
Sala sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.
Sekitar tahun 1961 kepanduan
Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam 3
federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September
1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI
(Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia)
Menyadari kelemahan
yang ada maka ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama PERKINDO
(Persatuan Kepanduan Indonesia).
Karena masih adanya rasa
golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan gerakan kepanduan
Indonesia akan dipergunakan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pioner Muda
seperti yang terdapat di negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila dalam
Perkindo menentangnya dan dengan bantuan perdana Menteri Ir. Juanda maka
perjuangan menghasilkan Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang
pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Pjs Presiden RI Ir Juanda karena
Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.
Di dalam Keppres ini gerakan
pramuka oleh pemerintah ditetapkan sebagai satu-satunya badan di wilayah
Indonesia yang diperkenankan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, sehingga
organisasi lain yang menyerupai dan sama sifatnya dengan gerakan pramuka
dilarang keberadaannya
Perkembangan Gerakan
Pramuka
Ketentuan dalam Anggaran Dasar
gerakan pramuka tentang prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan
yang pelaksanaannya seperti tersebut di atas ternyata banyak membawa perubahan
sehingga pramuka mampu mengembangkan kegiatannya. Gerakan pramuka ternyata
lebih kuat organisasinya dan cepat berkembang dari kota ke desa.
Kemajuan Gerakan Pramuka akibat dari sistem Majelis Pembimbing yang dijalankan di tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan. Mengingat kira-kira 80 % penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan 75 % adalah petani maka tahun 1961 Kwarnas Gerakan Pramuka menganjurkan supaya para pramuka mengadakan kegiatan di bidang pembangunan desa. Pelaksanaan anjuran ini terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat menarik perhatian Pimpinan Masyarakat. Maka tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional mengeluarkan instruksi bersama pembentukan Satuan Karya Taruna Bumi. Kemudian diikuti munculnya saka Bhayangkara, Dirgantara dan Bahari. Untuk menghadapi problema sosial yang muncul maka pada tahun 1970 menteri Transmigrasi dan Koperasi bersama dengan Ka Kwarnas mengeluarkan instruksi bersama tentang partisipasi gerakan pramuka di dalam penyelenggaraan transmigrasi dan koperasi. Kemudian perkembangan gerakan pramuka dilanjutkan dengan berbagai kerjasama untuk peningkatan kegiatan dan pembangunan bangsa dengan berbagai instansi terkait.
TALI TEMALI
Simpul adalah
seni dalam menyambung dua atau tiga utas tali baik itu tali yang sama besar
maupun yang tidak sama besar, tali dalam keadaan kering Maupun dalam keadaan
basah.
Salah satu
aplikasinya yang sangat berguna adalah dalam proses pembuatan jaring nelayan
(jala) untuk mencari ikan atau mengangkut barang di kapal-kapal laut serta
pembuatan berbagai kerajinan dan tentu saja dalam kepramukaan banyak
kegunaannya.
Simpulan tali terdiri dari 4
bagian/sambungan, yaitu:
Catatan: Simpul merupakan gabungan dari pacung, sengkelit dan sosok.
Jenis-jenis Simpul :
|
1) |
Simpul Ujung Tali |
: |
Kegunaannya untuk mencegah pintalan tali
terurai. |
|
2) |
Simpul Mati |
: |
Kegunaannya untuk mengakhiri suatu ikatan
dan untuk menyambung dua utas tali yang sama besarnya dalam keadaan kering. |
|
3) |
Simpul Anyam |
: |
Kegunaannya untuk menyambung dua utas tali
yang tidak sama besarnya dalam keadaan kering |
|
4) |
Simpul Anyam Berganda |
: |
Kegunaannya untuk menyambung dua utas tali
yang tidak sama besar dalam keadaan basah |
|
5) |
Simpul Erat |
: |
Kegunaannya adalah untuk memendekkan tali,
tanpa harus memotongnya |
|
6) |
Simpul Kembar |
: |
Gunanya untuk menyambung dua utas tali yang
sama besar dalam keadaan basah/licin. |
|
7) |
Simpul Tiang |
: |
Gunanya untuk mengikat leher hewan agar
tidak mudah tercekik. |
|
8) |
Simpul Tiang Bendera |
: |
Mempunyai kegunaan untuk mengangkat orang
dari bawah ke atas atau sebaliknya. |
|
9) |
Simpul Kursi |
: |
Gunanya untuk mengangkat orang dari bawah
ke atas atau sebaliknya. |
|
10) |
Simpul Pangkal |
: |
Kegunaannya adalah memulai ikatan,
mengikatkan tali pada tiang, dan membuat tandu, dll. |
|
11) |
Simpul Jangkar |
: |
Gunanya adalah untuk membuat tandu,
menalikan pasak, mengikat cincin, dan menarik balok. |
|
12) |
Simpul Tambat |
: |
Gunanya untuk menarik/menyeret balok, kayu,
pohon, menambatkan tali pada tiang dan memulai ikatan. |
|
13) |
Simpul Penarik |
: |
Gunanya untuk menarik balok |
|
14) |
Simpul Tarik |
: |
Gunanya untuk mengikatkan tali pengikat
leher binatang ke tiang/pohon agar mudah dilepas. Bisa juga dipergunakan untuk
turun ke jurang/lembah atau dari atas pohon yang tinggi |
|
15) |
Simpul Hidup |
: |
Gunanya untuk mengikat tali pada tiang,
tetapi mudah untuk dibuka kembali. |
|
16) |
Simpul Gulung |
: |
Gunanya untuk menarik balok, dengan cara
mengikatkan tali penarik balok lainnya, sehingga dapat membantu orang lain. |
|
17) |
Simpul Turki |
: |
Gunanya untuk mengikat sapu lidi agar tidak
mudah terurai atau bisa juga membuat cincin kayu (ring). |
b. Ikatan
3 macam ikatan dan kegunaannya :
|
1) |
Ikatan Penegang |
: |
Gunanya untuk menegangkan tali yang kendur. |
|
2) |
Ikatan Palang |
: |
Gunanya untuk mengikat dua buah
tongkat/tiang yang posisinya berpalangan, menyiku (tegak lurus 90o) |
|
3) |
Ikatan Canggah |
: |
Gunanya untuk menyambung dua buah
tongkat/tiang atau lebih, dengan kedudukan tegak lurus dengan tujuan memperpanjang
tongkat. |
Tipe Tali ada 2 yaitu:
a.
Tipe
Kernmantel, sangat kuat tetapi mudah putus jika terpotong pisau.
b.
Tipe tali
tradisional, yaitu jalinannya terdiri dari 3 tali yang lebih kecil yang
dianyam, jika satu terurai maka lainnya ikut terurai.
Dari keahlian tali-temali di atas, kita bisa
lebih mudah untuk membuat berbagai bentuk miniatur yang tentu saja sebatas pada
bentuk yang dapat dibuat dari tali tersebut. Contohnya adalah membuat miniatur
menara.
Apa itu Pembina
Pembina Pramuka dan Pembantu Pembina Pramuka termasuk sebagai Anggota DewasaPembina Pramuka dan Pembantu Pembina Pramuka diatur sebagai berikut:
a.
Pembina Siaga sekurang-kurangnya berusia 21 tahun,
sedangkan Pembantu Pembina Siaga sekurang-kurangnya berusia 17 tahun.
b.
Pembina Penggalang sekurang-kurangnya berusia 21 tahun,
sedangkan Pembantu Pembina Penggalang sekurang-kurangnya berusia 20 tahun.
c.
Pembina Penegak sekurang-kurangnya berusia 25 tahun, sedangkan Pembantu Pembina Penegak
sekurang-kurangnya berusia 23 tahun.
d.
Pembina Pandega sekurang-kurangnya berusia 28 tahun,
sedangkan Pembantu Pembina Pandega sekurang-kurangnya 26 tahun.
e.
Pembina Pramuka, sekurang-kurangnya telah lulus Kursus
Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) dan membina anggota muda secara
aktif.
Syarat
kekentuan lain selain memiliki KTA, seorang Pembina diwajibkan memiliki SHB
yaitu Surat Hak Bina yang berlaku dalam jangka waktu tertentu.
Pelantikan Pembina
Pramuka dilakukan oleh Ketua Kwartir Cabang yang bersangkutan, dengan
mengucapkan Trisatya dan menandatangani Ikrar. Untuk Pengukuhan Pengurus
Gugusdepan dilakukan setelah Pelantikan.
Pengukuhan
Pengurus Gugusdepan Pramuka yang terdiri dari Pembina Gugusdepan, Pembina
Satuan, Pembantu Pembina Satuan, dilakukan oleh Ketua Majelis Pembimbing
Gugusdepan.
BAPAK PRAMUKA INDONESIA
Sosoknya begitu dikenal sebagai pendiri Pramuka di Indonesia.
Biografi
Lahir di Yogyakarta dengan nama GRM Dorojatun pada 12 April 1912, HamengkubuwonoIX
adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah.
Diumur 4 tahun Hamengkubuwono IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh
pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada
tahun 1930-an beliau berkuliah di Universiteit Leiden, Belanda
(”SultanHenkie”).
Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret
1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan
HamengkubuwonoSenopati Ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panotogomo
Kholifatulloh Ingkang Kaping Songo”. Beliau merupakan sultan yang menentang
penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga
mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat
“Istimewa”. Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada
kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966
adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin.
Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil
presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk
dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada
rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak
menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan
hanyut pada KKN.
Minggu malam pada 1 Oktober 1988 ia wafat di George Washington University
Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram
di Imogiri.